Headline Daik Lingga   2026/06/12 20:33 WIB

Megat Raden Kuning Seorang Pemimpin Berani dan Bijaksana Dikenal Penakluk Lautan dan Pembuka Negeri Lingga

Megat Raden Kuning Seorang Pemimpin Berani dan Bijaksana Dikenal Penakluk Lautan dan Pembuka Negeri Lingga
ilustrasi Visual

DAIK LINGGA - Megat Raden Kuning seorang pemimpin berani dan bijaksana dikenal sebagai penakluk lautan dan pembuka negeri Lingga.

Sejarah mencatat bahwa pembentukan Kampung Lingga Daik bermula dari kepemimpinannya. Berdasarkan Undang-Undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, ayahnya, Megat Mata Merah, seorang penguasa besar Jambi, tidak pernah sampai ke Lingga.

Sebaliknya, yang melakukan perjalanan jauh dari Tanah Pilih, Jambi, menuju Pulau Lingga adalah putranya sendiri, Megat Raden Kuning.

Kisah ini diceritakan oleh Lazuardi, seorang pemerhati sejarah dan budaya Kabupaten Lingga, yang mengungkapkan perjalanan hidup sang tokoh melalui buku sejarah miliknya belum lama ini.

Sebelum memulai perjalanannya, Megat Raden Kuning telah diangkat sebagai Orang Kayo Singo Dirajo, gelar kebesaran bagi seorang pemimpin yang memiliki keberanian dan kebijaksanaan.

Pada tahun 701 Hijriah, ia berlayar dari Jambi menuju Lingga dengan perahu bernama Harimau Jantan, didampingi oleh Orang Pingai dan Orang Kayo Hitam.

Ia bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat seperti Orang Barok, Orang Mantang, dan Orang Laut.

Karismanya yang kuat membuat mereka mengangkatnya sebagai pemimpin.

Sebelum menetap di Lingga, ia singgah di Pulau Singkep, menelusuri berbagai tempat strategis. Namun, hatinya tertambat pada hulu anak Sungai Daik, tempat yang ia percaya memiliki energi untuk menjadi pusat negeri yang besar.

Ia pun menamai sungai itu Sungai Lingga, sementara permukiman yang ia bangun diberi nama Kampung Datuk Kaya Lingga Daik.

Sebagai pemimpin visioner, Megat Raden Kuning memahami bahwa sebuah negeri tidak bisa berkembang tanpa penduduk yang ramai.

Ia membawa serta Orang Bangka, yang menjadi generasi pertama komunitas Bangka di Lingga.

Sebagian dari mereka diberikan tempat di kawasan Sungai Tanda, yang berkembang menjadi Kampung Olak Sungai Dirajo Tando.

Dari sinilah awal mula peradaban baru di Pulau Lingga dan Singkep, membentuk komunitas yang kuat dan mandiri.

Megat Raden Kuning Megat Dialam bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah tokoh besar pengubah wajah Kepulauan Riau, membuka negeri, menaklukkan penguasa laut, dan membawa peradaban ke Lingga.

Siapa megat raden kuning megat dialam?

Pemerintah Kabupaten Lingga resmi memulai pembangunan fasilitas sarana dan prasarana pendukung di area Makam Megat Kuning melalui seremoni ground breaking.

Proyek ini dibiayai dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan yang beroperasi di Lingga, serta dana dari APBD Kabupaten Lingga.

Bupati Lingga, M. Nizar, menyampaikan bahwa pembangunan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai historis dan religius dari Makam Megat Kuning, sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.

Beberapa fasilitas yang akan dibangun di area makam ini antara lain pagar kawasan inti, kemungkinan gazebo atau musholla lengkap dengan WC, serta penutup bagian atas makam.

"Mudah-mudahan dapat dimaksimalkan pembangunannya," kata Nizar, Selasa 25 Maret 2025 lalu.

Nizar menambahkan bahwa proyek ini juga selaras dengan usulan yang telah diajukan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan agar makam ini mendapat perhatian lebih dalam aspek pelestarian sejarah dan budaya.

Makam Megat Kuning merupakan salah satu situs bersejarah di Kabupaten Lingga yang memiliki nilai budaya dan religius yang tinggi.

"Dengan adanya pembangunan ini, diharapkan kawasan makam dapat menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang lebih representatif," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Lingga terus mendorong sinergi antara pemerintah dan perusahaan swasta untuk membangun infrastruktur berkelanjutan melalui dana CSR, terutama dalam hal pelestarian sejarah dan pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Diharapkan pembangunan ini dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana, sehingga Makam Megat Kuning bisa menjadi salah satu ikon besar sejarah dan religi di Kabupaten Lingga.

Megat Raden Kuning adalah tokoh sejarah dan cerita rakyat yang dihormati di Kepulauan Riau, khususnya di Kabupaten Lingga.

Sebagai penguasa awal di Pulau Lingga (juga dikenal dengan nama Datuk Megat Kuning), ia memimpin dan melindungi Orang Laut dari Suku Mantang dan Suku Barok sebelum daerah tersebut menjadi pusat Kerajaan Johor-Riau-Lingga.

Ia berasal dari Jambi dan merupakan putra dari Megat Mata Merah (Tumenggung Merah Mato), seorang penguasa besar Jambi.

Sebelum melakukan perjalanan dari Jambi ke Lingga, ia dianugerahi gelar Orang Kayo Singo Dirajo.

Karena wilayah Lingga belum memiliki pemimpin tetap, masyarakat setempat seperti Orang Bangka dan Orang Laut menjadikan Megat Raden Kuning sebagai raja mereka.

Masa Sultan Mahmud Syah III memindahkan pusat kerajaannya dari Hulu Riau (Bintan) ke Daik Lingga pada tahun 1787, Megat Raden Kuning secara sukarela menyatakan diri sebagai hamba Sultan.

Ia kemudian diangkat menjadi Orang Kaya Temenggung. Ia bertugas menjaga keamanan dan ketertiban perairan Lingga dan berkedudukan di Pulau Mepar.

Megat Raden Kuning Megat Dialam bukan sekedar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah tokoh besar yang mengubah wajah Kepulauan Riau, membuka negeri, menaklukkan penguasaan laut, dan membawa peradaban ke Lingga. 

Sejarah mencatat bahwa terbentuknya Kampung Lingga Daik bermula dari kepemimpinannya. Berdasarkan Undang-Undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, ayahnya, Megat Mata Merah, seorang penguasa besar Jambi, tidak pernah sampai ke Lingga.

Pada tahun 701 Hijriah, ia berlayar dari Jambi menuju Lingga dengan perahu bernama Harimau Jantan, didampingi oleh Orang Pingai dan Orang Kayo Hitam.

Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat seperti Orang Barok, Orang Mantang, dan Orang Laut. Karismanya yang kuat menjadikan mereka mengangkatnya sebagai pemimpin.

Sebelum menetap di Lingga, ia singgah di Pulau Singkep, menelusuri berbagai tempat strategis. Namun, hatinya tertambat di hulu anak Sungai Daik, tempat yang ia percaya memiliki energi untuk menjadi pusat negeri yang besar.

Ia pun membangun sungai itu Sungai Lingga, sementara organisasi yang ia bangun diberi nama Kampung Datuk Kaya Lingga Daik.

Sebagai pemimpin visioner, Megat Raden Kuning memahami bahwa sebuah negeri tidak bisa berkembang tanpa penduduk yang ramai. Oleh karena itu, ia membawa serta Orang Bangka, yang menjadi generasi pertama komunitas Bangka di Lingga.

Sebagian dari mereka diberikan tempat di kawasan Sungai Tanda, yang berkembang menjadi Kampung Olak Sungai Dirajo Tando. Dari awal peradaban baru di Pulau Lingga dan Singkep, membentuk komunitas yang kuat dan mandiri.

Kisah perjalanan ini telah lama tercatat dalam Undang-Undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, yang menjadi saksi atas jejak leluhur dalam membuka dan membangun negeri Melayu.

Namun, perjalanan Megat Raden Kuning tidak selalu mulus. Ada satu rintangan besar yang harus ia hadapi—Si Mak Yah, seorang penguasa Suku Laut yang terkenal sakti dan kejam.

Si Mak Yah bukan perempuan biasa. Ia adalah pemimpin yang ditakuti di seluruh perairan Lingga, memiliki ilmu kebatinan tinggi, dan seluruh rakyatnya tunduk kepadanya.

Namun, Megat Raden Kuning tidak gentar. Ia menantang Si Mak Yah dalam sebuah pertempuran sengit yang akan menentukan siapa yang layak menjadi penguasa sejati Pulau Lingga.

Menurut buku Mengenal dan Mengenang Kebesaran Kerajaan Lingga Riau (Tengku Husein Saleh dkk, 2007), pertarungan mereka begitu dahsyat hingga menyebabkan salah satu puncak Gunung Daik patah, menyisakan dua cabang yang masih terlihat hingga kini.

Si Mak Yah akhirnya kalah. Para pengikutnya pun bersumpah setia kepada Megat Raden Kuning, menandai berakhirnya era kekuasaan lama dan lahirnya sebuah negeri baru di bawah kepemimpinan sang Datuk Kaya.

Sebagai simbol kemenangan, setiap negeri yang ia taklukkan harus meletakkan sebutir lada ke dalam gantang. Seiring berjalannya waktu, lada-lada itu memenuhi Istana Tujuh Bandung di Hulu Sungai Daik, menjadi lambang supremasi dan kebesaran Megat Raden Kuning.

Megat Raden Kuning bukan hanya seorang penakluk, tetapi juga seorang pemimpin yang bijaksana dan dihormati.

Ia tidak hanya membangun negeri yang makmur, tetapi juga menyatukan berbagai suku dan kelompok masyarakat, menciptakan sistem pemerintahan yang kuat di Lingga.

Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di Bukit Nyiur, Hulu Sungai Lasi, antara Kampung Sepincan dan Kampung Mading.

Konon, lokasi makamnya dahulu dikenal dengan Bukit Nyiur karena terdapat sebatang pohon nyiur yang besar. Kini, tempat itu lebih dikenal sebagai Bukit Keramat, karena masyarakat mengkeramatkan makamnya sebagai pusaka sejarah Lingga.

Megat Raden Kuning tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga warisan kepemimpinan yang tetap hidup dalam adat dan budaya masyarakat Lingga.

Hingga hari ini, kisahnya masih diceritakan sebagai sumber kebanggaan bagi masyarakat Melayu.

Gunung Daik yang bercabang dua tetap menjadi simbol kejayaan, sementara Kampung Lingga Daik yang ia dirikan tetap berdiri sebagai bukti kehebatan kepemimpinan Melayu di Kepulauan Riau.

Sejarah bisa semakin maju, tetapi nama Megat Raden Kuning akan selalu hidup dalam ingatan masyarakat Melayu sebagai sang penakluk lautan, pembuka negeri, dan pemimpin besar yang mengubah sejarah Lingga selamanya.

Bangunan makam yang berada tepat di depan/sekitar area kompleks Kantor Bupati Lingga (di Daik) adalah kompleks makam bersejarah tokoh Melayu, yakni Makam Megat Raden Kuning (pahlawan dan pembuka wilayah Lingga) yang terletak di Bukit Keramat, Kampung Manding.

Megat Kuning dikenal dalam sejarah sebagai sosok penakluk lautan di masa kejayaan Kerajaan Riau-Lingga.

Pemerintah Kabupaten Lingga telah melakukan penataan kawasan, pemugaran, dan pembangunan fasilitas sarana serta prasarana di area makam tersebut agar lebih nyaman dikunjungi peziarah dan wisatawan. (*)

Tags : Makam Megat Raden Kuning, Megat Raden Kuning, Sejarah, lingga, Kepulauan Riau ,