DAIK LINGGA - Angin berhembus pelan di pesisir Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Cahaya matahari sore pun sudah melemah memantul di permukaan air tambak milik warga Mepar.
Jamil, lelaki 63 tahun berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil.
Dia menebar pakan ke beberapa sudut tambak. Sesekali riak air pecah. Sejumlah kepiting bakau keluar dari persembunyian dengan capit yang muncul lebih dulu sebelum tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan.
“Kalau jam segini mereka mulai aktif makan. Paginya lebih banyak diam di lubang,” kata Jamil sambil memperhatikan gerak air.
Di tambak sederhana itu, Jamil membesarkan kepiting hasil tangkapan nelayan yang masih kecil atau belum layak jual.
Setelah beberapa bulan, kepiting akan tumbuh besar, berat bertambah, yang itu berarti harganya naik. Cara ini menjadi salah satu strategi warga pesisir untuk mendapat nilai lebih tinggi dari komoditas yang kian diminati pasar.
Tidak jauh dari tambak Jamil, di rumah sederhana berdinding batako, anak-anak sedang memilah kepiting yang baru di panen.
Sebagian akan dijual ke pengepul, sebagian lagi dipesan pembeli tetap. Dari aktivitas kecil di rumah itu, keluarga Jamil mampu biayai kebutuhan harian, mulai dari beras, listrik, hingga ongkos sekolah anak-anaknya.
“Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah. Kalau sepi ya harus pintar mengatur,” ujarnya.
Selama ini kepiting bakau lebih dikenal sebagai hasil tangkapan alam. Nelayan kepiting memasang kodong atau bubu di kawasan muara, lalu menjual hasil tangkapan ke pengepul.
Model ini memang cepat menghasilkan uang, tetapi sangat bergantung pada stok alam. Ketika populasi menurun, pendapatan warga ikut goyah.
Karena itu, sebagian masyarakat pesisir mulai mencoba cara lain dengan budidaya kepiting bakau. Jamil termasuk salah satunya. Di tambak miliknya, dia menampung kepiting kecil hasil tangkapan warga untuk dibesarkan. Setelah ukuran dan berat bertambah, nilai jual kepiting meningkat signifikan.
Menurut Jamil, cara ini memberi dua keuntungan sekaligus. Pertama, nelayan tetap punya pasar untuk hasil tangkapan. Kedua, kepiting kecil yang seharusnya belum layak konsumsi tidak langsung habis dipanen dari alam.
“Kalau langsung dijual kecil, harganya murah. Kalau dibesarkan dulu, nilainya beda,” katanya.
Budidaya kepiting bakau juga relatif cocok dengan karakter pesisir Pulau Mepar yang memiliki kawasan payau dan bekas tambak.
Dengan pengelolaan sederhana, kolam-kolam yang sebelumnya kurang produktif bisa diubah menjadi tempat pembesaran kepiting.
Permintaan pasar yang stabil menjadikan usaha ini cukup menjanjikan.
Namun, budidaya kepiting bakau tidak bisa disamakan dengan ikan biasa.
Kepiting memiliki karakter biologis yang sangat bergantung pada kondisi habitat alami.
Mereka cenderung tidak tahan pada perairan dengan tingkat visibilitas tinggi atau air yang terlalu jernih. Dalam kondisi seperti itu, kepiting lebih mudah mengalami stres.
“Karena kepiting ini tidak betah pada visibilitas tinggi. Dia lebih nyaman di air yang agak pekat, agak keruh seperti di habitat aslinya,” kata Mistari, Ketua kelompok tambak ikan (keramba) di Pulau Mepar, Kabupaten Lingga.
Ketika air pasang masuk ke tambak dalam kondisi sangat jernih, terutama pada kolam terbuka yang minim vegetasi, kepiting kerap menjadi lebih pasif dan mudah stres.
Sebaliknya, di lingkungan yang menyerupai muara alami dengan air payau, sedikit keruh, dan kaya bahan organik, kepiting cenderung lebih tenang dan aktif makan.
Kondisi inilah yang membuat keberadaan mangrove sangat penting dalam budidaya kepiting. Akar-akar mangrove bukan hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga membantu memperbaiki kualitas lingkungan kolam.
Vegetasi bakau mampu meningkatkan oksigen terlarut (DO) di perairan, menstabilkan suhu, serta menghasilkan bahan organik yang menjadi sumber pakan alami bagi organisme kecil.
Dalam ekosistem itu, mikroorganisme baik berkembang dan berfungsi layaknya probiotik maupun prebiotik alami bagi lingkungan tambak.
“Kalau ada mangrove-nya, kepiting akan berdesakan cari tempat berlindung di situ. Mereka merasa nyaman, makanya betah menetap,” kata dia
Dari sanalah muncul gagasan silvofishery yang menggabungkan tambak dengan mangrove dalam satu kawasan budidaya.
Sebagian lahan tetap digunakan untuk kolam, sementara sebagian lain ditanami bakau di tanggul, jalur air, atau sudut petakan tambak.
Sistem ini lebih sesuai dengan kebutuhan biologis kepiting bakau dibanding kolam kosong tanpa vegetasi.
Bagi warga, konsep ini terasa lebih realistis. Mereka tidak harus kehilangan seluruh tambak, tetapi tetap bisa menghadirkan kembali fungsi ekologis pesisir.
Mangrove menahan abrasi, menjaga kualitas air, menyediakan tempat berlindung kepiting, sekaligus membuka peluang pemulihan habitat yang rusak.
Beberapa petambak di Pulau Mepar mulai menanam bibit bakau di pinggir kolam.
Ada yang membuat jalur hijau di saluran air masuk. Begitu juga para nelayan, mereka ikut menjaga bibit mangrove muda agar tidak hanyut saat pasang besar atau rusak oleh ternak.
Namun tantangan berikutnya adalah keterbatasan pengetahuan teknis. Banyak petambak menjalankan budidaya secara otodidak, tanpa pendampingan tenaga ahli yang memahami karakter kepiting bakau.
Padahal, menurut mereka, sektor ini membutuhkan pendamping atau supervisor lapangan yang paham manajemen air, pakan, kepadatan tebar, hingga perilaku biologis kepiting.
“Petambak ini harus ada yang membimbing. Kalau tidak, mereka coba-coba sendiri dan risikonya besar,” ujar Tambak udang di Kampung Cenut, Desa Mepar, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, dikelola atas nama H. Armia (yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah/Sekda Kabupaten Lingga).
Sedangkan Nurrahman, pemilik salah satu tambak di Desa Mepar menyatakan, jika dikembangkan budidaya kepting bakau dengan serius, yang berbasis silvofishery dapat menjadi model ekonomi biru bagi Lingga untuk menghasilkan pendapatan sambil memulihkan ekosistem pesisir.
"Warga memperoleh manfaat ekonomi, mangrove tumbuh kembali, dan tekanan terhadap populasi kepiting liar di alam bisa berkurang," sebutnya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lingga saat dijabat oleh Sutarman menilai, potensi pengembangan kepiting bakau di daerah ini cukup besar karena kawasan mangrove dan pesisir tersebar di sejumlah titik strategis.
Wilayah-wilayah itu dapat menjadi basis budidaya maupun penguatan ekonomi masyarakat pesisir jika terkelola dengan baik.
Beberapa wilayah terkenal dengan ekosistem pesisir, muara, dan perairan payau yang cocok untuk habitat kepiting bakau maupun pengembangan tambak rakyat banyak di Lingga.
Masalahnya, sejauh ini belum memiliki data kuantitatif terbaru mengenai luas mangrove karena kewenangan pengelolaan wilayah pesisir, termasuk ekosistem bakau, kini berada di provinsi.
Kondisi itu membuat pemerintah kabupaten kesulitan melakukan intervensi langsung terhadap kawasan pesisir.
“Sejak terbitnya UU Nomor 23 tahun 2014, kewenangan pesisir hingga 14 mil ke tengah itu pindah ke provinsi,” kata Sutarman.
Kendati peluang ekonomi kepiting bakau cukup besar, perhatian pemerintah daerah masih sangat terbatas. Hingga kini, di banyak desa pesisir, pengembangan usaha kepiting lebih banyak berjalan atas inisiatif warga sendiri.
Mereka belajar secara otodidak, berbagi pengalaman antar petambak, atau mencoba-coba sistem pemeliharaan tanpa pendampingan teknis memadai.
“Mereka dibiarkan sendiri, belajar dan jalan sendiri.”
Jamil bilang, belum pernah mendapatkan pelatihan khusus budidaya kepiting secara berkelanjutan dari pemerintah. Pengetahuan soal budidaya dia peroleh dari pengalaman bertahun-tahun dan bertanya kepada sesama petambak.
“Kami belajar sendiri. Kalau gagal ya rugi sendiri,” katanya tertawa kecil.
Persoalan lain adalah akses permodalan. Sebenarnya, warga tertarik mengembangkan tambak kepiting, tetapi terbentur biaya pembuatan kolam, pembelian bibit, pakan, dan perbaikan saluran air.
Tanpa dukungan modal lunak atau skema pembiayaan yang sesuai, usaha skala kecil sulit berkembang.
Di sisi pemasaran, rantai perdagangan juga masih dikuasai pengepul. Nelayan dan petambak sering berada di posisi tawar lemah karena tidak punya akses langsung ke pasar besar.
Harga di tingkat warga bisa jatuh ketika pasokan melimpah, sementara di tingkat konsumen tetap tinggi.
Belum ada kebijakan spesifik juga membuat komoditas ini berjalan tanpa peta jalan yang jelas.Tidak ada sentra budidaya kepiting bakau yang ditata serius, belum ada integrasi dengan program rehabilitasi mangrove, dan minim inovasi hilirisasi seperti produk olahan bernilai tambah.
Padahal, ketimbang komoditas lain, kepiting bakau memiliki keunggulan. Pasar tersedia, harga relatif tinggi, teknologi budidaya bisa skala rakyat, dan cocok di kawasan pesisir yang sudah ada.
Dengan dukungan kebijakan tepat, kepiting bakau berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi wilayah Lingga.
Muslim, salah satu warga desa setempat mengatakan, pemerintah provinsi belum melakukan pembinaan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang mencoba membudidayakan kepiting bakau. Namun, sektor ini memang tidak semudah komoditas budidaya lain seperti ikan air laut.
“Budidaya kepiting bakau agak rumit, karena hewan ini kanibal. Mereka bisa saling memakan kalau penanganannya tidak tepat. Jadi perlu perlakuan khusus,” katanya.
Karakter kanibal itu membuat petambak harus memahami teknik pemeliharaan secara detail, mulai dari kepadatan tebar, pemisahan ukuran, penyediaan tempat berlindung, hingga pola pemberian pakan.
Tanpa manajemen yang baik, tingkat kematian tinggi dan usaha menjadi merugi. Karena itu, pendampingan teknis sangat penting untuk mendorong budidaya kepiting sebagai sektor ekonomi baru.
Muslim sepakat perlindungan habitat menjadi kunci utama masa depan kepiting bakau.
Melalui program ini, dia tidak hanya berharap perbaikan garis pantai yang terdegradasi, juga mengembalikan habitat alami berbagai biota pesisir, termasuk kepiting bakau.
“Kalau habitatnya bagus, maka kepiting juga akan kembali. Jadi budidaya penting, tapi alamnya juga harus dipulihkan.”
Para nelayan dan petambak berharap pemerintah tidak hanya melihat pesisir sebagai lokasi tambak udang atau objek wisata, juga ruang ekonomi masyarakat yang bisa tumbuh lewat komoditas lokal seperti kepiting bakau. Dukungan berupa pelatihan, bibit, permodalan, penguatan koperasi, hingga perlindungan mangrove menjadi kebutuhan mendesak. (*)
Tags : ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, kelautan perikanan, komunitas lokal, produk laut, daik lingga, kepri ,