Kepri   2026/06/15 21:14 WIB

Pendidikan Anak Nelayan Terhambat, LP3 Anak Negeri: 'Bisa Soal Kemiskinan Ekstrem, Tuntutan Ekonomi dan Rendahnya Motivasi Orang Tua'

Pendidikan Anak Nelayan Terhambat, LP3 Anak Negeri: 'Bisa Soal Kemiskinan Ekstrem, Tuntutan Ekonomi dan Rendahnya Motivasi Orang Tua'

KEPRI - Pendidikan anak nelayan kerap terhambat oleh masalah klasik seperti kemiskinan ekstrem, putus sekolah akibat tuntutan ekonomi keluarga, rendahnya motivasi orang tua, hingga minimnya fasilitas dan akses geografis di kawasan pesisir.

"Biasanya faktor sosial dan ekonomi. Pendapatan nelayan yang tidak menentu dan berada di bawah garis kemiskinan memaksa orang tua memprioritaskan kebutuhan sehari-hari ketimbang biaya sekolah," kata Wawan Sudarwanto, Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan Pendidikan (LP3) Anak Negeri dalam bincang-bincangnya belum lama ini.

Anak nelayan sering dihadapkan pada dilema waktu; mereka harus membantu orang tua melaut, mengolah ikan, atau menjaga adik, sehingga tingkat putus sekolah sangat tinggi, sebutnya.

Selain itu kurangnya dukungan keluarga. Pola pikir orang tua yang menganggap pendidikan formal kurang mendesak dibanding keterampilan mencari ikan secara turun-temurun menyebabkan motivasi belajar anak menjadi rendah.

Wawan melihat keterbatasan akses dan fasilitas juga menjadi penyebab. Permukiman nelayan yang terisolir jauh dari pusat kota membuat jarak ke sekolah menjadi sangat jauh.

"Anak nelayan sering kesulitan menempuh pendidikan akibat kemiskinan struktural."

"Tuntutan membantu orang tua di laut, dan letak geografis wilayah pesisir yang jauh dari fasilitas memadai. Lingkungan sosial dan ekonomi ini menghambat mereka mendapatkan hak belajar yang setara," sebutnya.

Menurutnya, pendapatan nelayan yang tidak menentu membuat orang tua kesulitan membiayai kebutuhan sekolah seperti seragam, buku, dan transportasi.

Hasil pantauannya di lapangan, banyak anak terpaksa putus sekolah atau membagi waktu untuk bekerja menangkap ikan guna menambah penghasilan keluarga.

"Daerah pesisir dan pulau terpencil sering kali memiliki infrastruktur pendidikan yang terbatas dan jarak yang jauh," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, masih terdapat pandangan budaya di beberapa komunitas nelayan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin perbaikan taraf hidup.

Tetapi Wawan memandang, upaya untuk memutus rantai kemiskinan tersebut memerlukan intervensi terarah, seperti program beasiswa pemerintah, akses bantuan biaya pendidikan sangat krusial bagi anak dari keluarga berpenghasilan rendah.

Sebaliknya, nelayan dalam kehidupan khasnya, waktu melaut yang panjang, dan ketergantungan pada alam membentuk cara keluarga nelayan mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

"Di balik kesederhanaan hidup di tepi laut, tersimpan nilai-nilai pengasuhan yang kuat, adaptif, dan penuh makna."

"Sejak usia dini, anak nelayan sudah akrab dengan lingkungan alam yang keras namun mendidik. Mereka belajar memahami waktu dari pasang surut laut dan cuaca, bukan dari jam semata. Pengalaman ini melatih kemandirian dan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar sejak kecil."

Menurutnya, peran orang tua dalam keluarga nelayan sering kali terbagi tegas namun saling melengkapi. Ayah banyak menghabiskan waktu melaut, sementara ibu menjadi figur utama dalam pengasuhan sehari-hari.

"Dalam kondisi ini, ibu tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga pendidik nilai, penanam disiplin, dan penjaga stabilitas emosional anak."

"Pengasuhan anak nelayan sangat menekankan keteladanan. Anak melihat langsung kerja keras orang tua dalam menghadapi risiko laut dan ketidakpastian hasil tangkapan. Dari sini, anak belajar makna tanggung jawab, ketekunan, dan sikap pantang menyerah tanpa harus dijelaskan secara verbal," jelasnya.

Nilai kebersamaan juga tumbuh kuat dalam keluarga nelayan. Saat ayah pulang melaut, momen berkumpul menjadi sangat bermakna. Anak belajar bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan sekadar rutinitas.

"Aktivitas sederhana seperti membersihkan jala atau menyiapkan perahu bersama menjadi sarana belajar sosial yang alami."

Tetapi ketidakpastian ekonomi sering memengaruhi pemenuhan gizi, akses pendidikan, dan layanan kesehatan anak.

"Itu lah sebabnya orang tua harus pandai menyeimbangkan kebutuhan bertahan hidup dengan kebutuhan tumbuh kembang anak."

Dalam hal pendidikan, kata Wawan, anak nelayan kerap dihadapkan pada dilema antara membantu orang tua dan bersekolah. Beberapa anak sudah terbiasa membantu pekerjaan ringan di pesisir, seperti memilah ikan. (*)

Tags : anak nelayan, pendidikan, pendidikan anak nelayan, pendidikan terhambat, nelayan masih terlilit kemiskinan ekstrem,