JAKARTA - Peta industri energi dan pasar modal Tanah Air akan diguncang aksi korporasi raksasa.
Pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang akrab disapa Haji Isam, kabarnya tengah bersiap mengakuisisi 62,2 persen saham emiten tambang batu bara kelas kakap, PT Bayan Resouces Tbk (BYAN).
Manajemen Jhonlin Group maupun BYAN belum menjelaskan rencana detil nilai akuisisi maupun porsi saham yang bakal diakuisisi.
Tapi yang jelas, Jhonlin Group akan mengambil alih porsi mayoritas BYAN. Aksi korporasi ini juga berpotensi menjadi nilai akuisisi terbesar di Indonesia sepanjang sejarah.
Sinyal pengambilalihan kendali saham emiten pertambangan raksasa tersebut kian benderang setelah dilaksanakannya peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang perseroan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (15/8).
Agenda peninjauan lokasi ini dihadiri langsung oleh jajaran pemilik tiga entitas bisnis strategis nasional.
Haji Isam hadir selaku pemilik Jhonlin Group, didampingi Dato’ Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali PT Bayan Resources Tbk, serta Norman Joesoef selaku pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp.
Tak sekadar memantau lapangan, pertemuan yang turut didampingi jajaran direksi dari tiap-tiap perusahaan ini berfokus membahas teknis konsolidasi aset serta penyelarasan strategi bisnis menjelang eksekusi transaksi.
Masuknya Jhonlin Group ke emiten berkode saham BYAN diprediksi bakal mengubah peta persaingan industri pertambangan nasional.
Bayan Resources saat ini memegang predikat sebagai salah satu produsen batu bara thermal terintegrasi dengan biaya operasional paling efisien di industri, yang ditopang oleh tambang utama di Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara.
BYAN menguasai rantai pasok penuh dari hulu ke hilir, mencakup konsesi tambang, jalan angkut khusus (hauling road), fasilitas pengolahan, hingga jaringan pelabuhan laut dalam Balikpapan Coal Terminal dan sarana transshipment.
Kekuatan BYAN akan dilengkapi oleh kehadiran RKI di bawah komando Norman Joesoef yang menjadi kunci penyeimbang pada sisi infrastruktur dan rantai pasok maritim.
RKI dikenal sebagai pemain kawakan di bidang jasa logistik energi terpadu yang menyokong armada kapal tunda (tugboat), tongkang (barge), hingga pengelolaan pelabuhan muat perairan pedalaman.
Sinergi antara kapasitas produksi jumbo Bayan Resources, kekuatan infrastruktur pertambangan Jhonlin Group, serta keunggulan armada maritim RKI diyakini bakal menciptakan efisiensi biaya operasional yang sangat masif.
Sejauh ini belum ada informasi resmi dari Jhonlin Grup maupun pihak Bayan seputar aksi korporasi ini.
Yang jelas, apabila rencana pembelian saham mayoritas ini sah tereksekusi, Jhonlin Group berkewajiban menggelar penawaran tender wajib (mandatory tender offer) sesuai dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Konsolidasi tiga kekuatan besar ini tak hanya memperkuat posisi tawar ekspor energi Indonesia di panggung global, tetapi juga menjadi pemantik utama gerak saham BYAN di bursa.
Pada penutupan perdagangan saham Jumat (14/8/2026), harga saham BYAN naik 20 persen menjadi Rp14.400. Nilai kapitalisasi pasar BYAN juga naik menjadi Rp480 triliun. (*)
Tags : pengusaha nasional, andi syamsuddin arsyad, h isam, saham bayan resources, bayan resources, jhonlin group, low tuck kwong, pertambangan batu bara, News,