Artikel   2023/10/08 10:33 WIB

Perlukah Khawatir pada Politisi Berusia Tua yang Masih Bersaing Dalam Pemilu?

Perlukah Khawatir pada Politisi Berusia Tua yang Masih Bersaing Dalam Pemilu?
Meskipun orang berusia 70 tahun lebih lambat memproses informasi baru dibandingkan yang berusia 30 tahun, tapi mereka mungkin lebih baik dalam menyintesisnya. 

PADA usia berapa orang "terlalu tua" untuk memimpin? Atau apakah ini adalah sebuah pertanyaan yang salah?

Wakil Presiden Indonesia, Ma’aruf Amin, adalah pejabat negara aktif tertua di Indonesia yang kini menginjak usia 80 tahun. Adapun Prabowo Subianto di usia 71 tahun kembali mencalonkan diri sebagai presiden Indonesia. 

Di Amerika Serikat, Joe Biden akan kembali maju sebagai petahana dalam perebutan kursi presiden tahun 2024 pada usia 80 tahun, dua kali lebih tua dari rata-rata orang AS. Sedangkan Donald Trump yang berpotensi menjadi pesaing berusia 77 tahun, satu dekade melampaui ‘usia normal pensiun’ – di mana orang Amerika menerima uang pensiun.

Satu lagi, Pauline Newman, yang kini berusia 96 tahun, menjabat sebagai hakim federal AS. Meskipun dia ingin terus bekerja, perempuan itu berada di tengah tuntutan hukum oleh rekan-rekannya yang menginginkan dia pensiun.

Terlepas dari diskusi mengenai fakta bahwa gerontokrasi (masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang lanjut usia) biasanya tidak mewakili populasi mereka, terdapat kekhawatiran lain.

Salah satu fokus utamanya adalah kebugaran mental.

Ilmu saraf dan psikologi menunjukkan bahwa kinerja kognitif sangat bervariasi seiring bertambahnya usia, sehingga sulit untuk menentukan apakah seseorang dapat dikatakan terlalu tua untuk memimpin.

Meskipun beberapa keterampilan cenderung menurun seiring bertambahnya usia, keterampilan lainnya meningkat.

Beberapa orang lanjut usia yang disebut super agers bahkan memiliki ketajaman mental seperti orang-orang yang beberapa dekade lebih muda dari mereka.

Bagaimana penuaan mempengaruhi otak?

Volume otak manusia berkurang seiring waktu. Pada orang sehat, korteks prefrontal adalah wilayah otak yang mengalami kehilangan volume paling banyak karena pengaruh usia, yaitu sekitar 5% per dekade.

Melalui koneksinya ke bagian lain di otak, bagian ini membantu dalam mengelola fungsi eksekutif: serangkaian proses mental kompleks yang disamakan dengan termostat atau konduktor sebuah simfoni.

Ini adalah kunci dalam diskusi-diskusi mengenai kapasitas kepemimpinan karena melibatkan berbagai bidang seperti penyelesaian masalah, penetapan tujuan, dan pengendalian impuls.

Fungsi eksekutif manusia menurun secara bertahap ketika memasuki usia 30-an tahun, dan semakin cepat saat memasuki usia 70-an tahun.

Penyakit white matter – sekelompok kondisi yang disebabkan oleh kerusakan materi putih di otak – juga berkontribusi terhadap disfungsi eksekutif, dan mempengaruhi sekitar sepertiga orang berusia 65 tahun ke atas.

Disfungsi eksekutif dapat terlihat dari berkurangnya kontrol impuls dan peningkatan pengulangan pikiran dan perilaku.

Sebagian besar orang yang berusia di atas 65 tahun mengalami beberapa gangguan fungsi eksekutif.

"Saya rasa usia 65 tahun adalah hal yang wajar," kata Mark Fisher, yang memimpin Pusat Neuropolitik di Universitas California, Irvine.

Perubahan struktural lainnya di otak juga menjadi lebih besar pada usia ini – kecepatan pemrosesan mental telah terbukti menurun sejak sekitar usia 60 tahun dalam sebuah penelitian yang menggunakan data AS.

Ambang batas yang sangat longgar, yaitu 65 tahun, berlaku di AS, di mana angka harapan hidup saat lahir rata-rata adalah 76 tahun.

Namun, hal ini mungkin berbeda di negara-negara yang mempunyai angka harapan hidup dan sistem kesehatan yang sangat beragam (dan terdapat juga pengaruh ketidaksetaraan ras dan faktor lainnya yang mempengaruhi umur panjang di AS). 

Misalnya, angka harapan hidup laki-laki di Amerika adalah 73 tahun.

Angka ini lebih rendah dibandingkan negara-negara teratas. Namun jauh lebih tinggi dibandingkan angka harapan hidup laki-laki di Kamerun, yaitu 60 tahun, walaupun presiden Kamerun Paul Biya yang berusia 90 tahun menjadi pemimpin nasional tertua di dunia.

Angka harapan hidup saat lahir tidak mencerminkan keseluruhan proses untuk mencapai umur panjang, karena angka ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kematian bayi. Misalnya saja, seseorang yang berumur 80 tahun di Amerika bisa berharap untuk hidup satu dekade lagi.

Artinya, tidak ada aturan pasti mengenai kapan seseorang akan terkena dampak signifikan dari penurunan fungsi eksekutif – terutama jika kita memperhitungkan bahwa tidak semua memiliki kecakapan yang sama saat memulainya.

'Variabilitas yang luar biasa'

Fisher menjelaskan bahwa secara umum, ‘rata-rata’ usia dapat mengaburkan harapan akan umur panjang yang sehat dan kebugaran kognitif, mengingat apa yang ia sebut sebagai "variabilitas individu yang luar biasa" dalam fungsi eksekutif.

“Serangkaian pengujian akan menjadi cara terbaik untuk menentukan secara formal fungsi eksekutif seseorang, namun akan ada variasi yang luas dalam hal bagaimana fungsi individu,” kata Fisher.

Salah satu pembedanya adalah penyakit penyerta: berbagai kondisi seperti penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan hipertensi.

Semua ini berdampak pada fungsi otak, khususnya fungsi eksekutif. Dan meskipun penuaan tidak selalu disertai dengan penyakit, hal itu membuatnya lebih mungkin terjadi.

Menurut Fisher, "hipertensi, mungkin, bersamaan dengan penuaan itu sendiri, merupakan faktor paling penting dan paling berdampak pada penuaan otak secara keseluruhan dan juga fungsi eksekutif".

Oleh karena itu, diagnosis dini dan pengobatan hipertensi merupakan intervensi penting untuk melindungi kesehatan otak. Dan positifnya, ini adalah area di mana pengobatan dan pengetahuan terus meningkat, kata Fisher.

Ada juga variasi di bagian otak yang dapat mengkompensasi bagian lain yang mengalami kerusakan terkait usia.

Otak pada umumnya sangat mudah berubah dan diintervensi. Banyak dari kita dapat mengatasi sebagian gangguan di satu bagian otak dengan menggunakan bagian lain dari jaringan.

Tapi, ada juga kelompok lain yang mengalami kegagalan kompensasi ini seperti penyakit Alzheimer, jelas Mark Mapstone, seorang ahli saraf translasi di University of California, Irvine.

Di balik itu, tidak semuanya merupakan kabar buruk. Ada beberapa aspek di mana otak yang lebih tua justru menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Meskipun kemampuan untuk menerima informasi baru menurun jauh, kemampuan untuk mengarahkan dan bertindak berdasarkan informasi dapat meningkat hingga seseorang mencapai usia 70-an.

Jadi, meskipun orang berusia 70 tahun mungkin memproses informasi baru lebih lambat dibandingkan orang berusia 30 tahun, mereka mungkin lebih baik dalam menyintesisnya.

Mapstone mengatakan bahwa orang berusia 60 tahun biasanya memiliki kosakata yang lebih baik dibandingkan orang berusia 20 tahun, sehingga dapat mengganti kata dengan lebih baik. Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa skor kosakata meningkat hingga seseorang berusia pertengahan 60an.

“Apa yang terjadi pada otak yang lebih tua adalah mereka menjadi lebih baik dalam apa yang disebut kecerdasan terkristalisasi,” jelas Rose McDermott, pakar psikologi politik di Brown University.

“Anda memiliki skema dan cara berpikir yang mapan tentang berbagai hal. Dan Anda dapat mengintegrasikan informasi baru ke dalam struktur yang ada dengan lebih mudah dan dalam banyak lebih kreatif dibandingkan ketika masih muda karena Anda tidak berada di tingkat dasar pengetahuan yang sama."

Kekhasan kognitif kehidupan politik

Beberapa orang, yang dikenal sebagai super agers, mempertahankan fungsi kognitif lebih baik dibandingkan yang lebih muda. Mereka adalah orang-orang berusia 80an ke atas dengan kesehatan kognitif dua hingga tiga dekade lebih muda.

Mereka menunjukkan neuron yang lebih besar dan lebih sehat di korteks entorhinal, bagian otak yang penting untuk memori. Tidak mengherankan, tes memori mereka lebih baik daripada rekan-rekan mereka.

Aktivitas fisik, stimulasi mental, dan hubungan sosial semuanya penting untuk menjaga jaringan dan fungsi otak. 

Kepemimpinan politik setidaknya memberikan tantangan mental dan hubungan sosial. Orang-orang yang berkuasa juga cenderung memiliki banyak hak istimewa, termasuk keamanan finansial dan akses terhadap layanan kesehatan yang baik.

Beberapa ilmuwan menganggap pemimpin seperti Biden adalah super agers.

Namun, meskipun penuaan memberikan beberapa tantangan kognitif secara umum, penuaan juga dapat menimbulkan masalah tambahan bagi para pemimpin politik.

“Fleksibilitas kognitif dalam berpikir dan memecahkan masalah adalah bentuk kognisi penting yang harus dikuasai oleh para pemimpin politik agar dapat membuat keputusan berkualitas baik dalam menghadapi ketidakpastian dan risiko,” kata Barbara Sahakian, seorang profesor neuropsikologi klinis di Universitas Cambridge.

“Jenis keputusan seperti ini seringkali juga dibatasi oleh waktu.” Namun, fleksibilitas kognitif biasanya berkurang seiring berjalannya waktu.

Beberapa perubahan mental yang terkait dengan usia bisa sangat mengkhawatirkan bagi para pemilih. Salah satu alasannya adalah penuaan otak dapat mempengaruhi sikap politik.

Sebuah studi baru yang dilakukan Fisher dan rekan-rekannya terhadap pensiunan California Selatan dengan usia rata-rata 95 tahun, menemukan bahwa meskipun ideologi politik secara keseluruhan tetap konsisten selama periode enam bulan, orang-orang dengan gangguan kognitif menunjukkan ketidakkonsistenan antara orientasi politik dan pilihan kebijakan mereka.

Fisher mengomentari temuan ini: "Tampaknya hal ini merupakan konsekuensi dari gangguan kognitif, yaitu perilaku politik seseorang menjadi relatif tidak sejalan dengan kebijakan yang ditetapkannya."

Namun, "neuropolitik", bidang gabungan ilmu saraf dan ilmu politik, memiliki kritiknya sendiri. Beberapa pakar disabilitas berpendapat bahwa menemukan penjelasan biologis atas perilaku politik adalah hal yang sederhana, misalnya.

Pemeriksaan kognitif untuk para pemimpin politik

Mengingat bukti dampak penuaan pada otak, Fisher dan beberapa rekannya dari berbagai disiplin ilmu menyerukan dilakukannya pemeriksaan kognitif bagi para politisi, yang tidak selalu bergantung pada usia.

“Kami memandang pemeriksaan kognitif sebagai sesuatu yang analog dengan pengungkapan keuangan yang sering kali diharapkan dilakukan oleh para politisi,” katanya.

Fungsi kognitif terutama dinilai melalui evaluasi neuropsikologis – serangkaian tes standar yang bisa sangat rinci dan ekstensif sehingga dilakukan selama beberapa hari, jelas Mapstone. 

Manijeh Berenji, seorang spesialis kedokteran okupasi dan anggota fakultas klinis di UC Irvine, percaya bahwa penilaian terhadap politisi ini dapat dilakukan dan adil.

Namun, konsep ini sangat kontroversial dan dipolitisasi. Kandidat presiden dari Partai Republik, Nikki Haley, telah memimpin seruan agar politisi berusia di atas 75 tahun menjalani tes kompetensi mental. Namun pendekatan ini dikritik karena bersifat kuno dan sulit diterapkan.

Hans Förstl, seorang profesor psikiatri emeritus di Universitas Teknik Munich, percaya bahwa penilaian akan sulit untuk menangkap kompleksitas kognitif dan tuntutan menjadi kepala negara.

“Aktivitas hidup sehari-hari, kinerja kognitif selama rutinitas dan tantangan sehari-hari sangat menentukan, bukan kinerja selama tes yang lebih pendek atau lebih lama,” kata Förstl.

“Tuntutan terhadap seorang kepala negara sangat luar biasa dalam segala hal; tidak ada tes yang mampu mengukur perpaduan antara kebugaran, kecerdasan, pengalaman, dan kebijaksanaan.”

McDermott berpendapat bahwa meskipun tes tersebut cukup masuk akal, namun di AS, ide tersebut tidak bisa diterapkan karena alasan politik. Mengingat sifat keyakinan yang terpolarisasi di kalangan politisi tertentu, dia bertanya-tanya, "Jika mereka lolos, apakah masyarakat akan mempercayainya?"

Mengakomodasi politisi yang lebih tua

Beberapa komentator melihat perdebatan mengenai calon presiden AS pada tahun 2024 sebagai peluang untuk menyoroti “toxic ageism” – dan memberikan perhatian pada perlunya mendukung pekerja lanjut usia secara umum.

Suka atau tidak suka, banyak ahli percaya bahwa setiap orang kemungkinan besar harus bekerja lebih lama di masa depan.

Namun, sebagian lainnya tidak setuju.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Associated Press dan organisasi penelitian Norc Center for Public Affairs, mayoritas pemilih melihat usia Presiden AS Joe Biden sebagai kekhawatiran yang signifikan.

Sementara itu, survei terbaru yang dilakukan oleh CBS dan firma analisis data YouGov menemukan bahwa mayoritas responden berpendapat bahwa akan "terlalu menuntut" bagi seseorang untuk menjabat sebagai presiden AS pada usia di atas 75 tahun – yang akan mengeliminasi Biden dan Trump.

Apa pun keputusan masyarakat, sulit membayangkan bahwa tes kognitif pada akhirnya akan mengakhiri perdebatan. (*)

Tags : Amerika Serikat, Penelitian medis, Politik, Kesehatan mental, Lanjut usia, Indonesia, Kesehatan, Sains,