SAMBAS - Dalam satu hektare sawah, Heri, Petani muda Desa Serunai Kecamatan Salatiga, berhasil memanen padi sekitar 9,6 ton.
Hal ini menjadi sebuah keberhasilan meski harus dibarengi dengan semangat dan konsisten dalam menggarap dan mengolah tanaman padi.
Hal itu diakui Heri, petani muda yang sukses menggarap sawah sehingga mampu panen gabah sebanyak 9,6 ton per hektare berdasarkan metode timbangan riil.
Dia pun mengakui, jika hal itu didapatkan tidak dengan mudah. Keuletan dan semangat yang gigih berbarengan dengan penggunaan teknologi pertanian dilakukannya.
“Kalau hasil itu bisa diperoleh, tentunya ada proses panjang, ketekunan, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih modern di lahan sawah,” kata, pemuda kelahiran tahun 1989 ini.
Terlebih di tengah tantangan sektor pertanian yang terus berubah.
Penggunaan teknologi pertanian menjadi sebuah keharusan bagi petani.
“Kalau ditanya tantangan, tentunya banyak sekali, apalagi di zaman sekarang ditengah tantangan sektor pertanian yang terus berubah,” ujar pria yang tahun ini berumur 37 tahun ini.
Sehingga Heri menyadari, keberhasilan tersebut tidak datang secara instan.
Namun berbagai faktor berperan penting dalam meningkatkan produktivitas, mulai dari penggunaan benih unggul, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga dukungan pupuk serta penerapan inovasi teknologi di lapangan.
Kemudian juga dipengaruhi bagaimana memilih benih padi yang unggul, alat dan mesin pertanian yang memadai, serta pupuk dan inovasi teknologi yang digunakan dalam pertanian.
“Tapi apa yang diraih saat ini, menjadi titik awal untuk terus maksimal dalam sektor pertanian, kemudian menggarap lahan dengan terukur,” katanya.
Sebagai petani, dirinya pun siap berbagi ilmu dan pengetahuan kepada petani lain, Sehingga kedepannya sektor pertanian di Kabupaten Sambas khususnya bisa maju.
“Kalau ada kawan petani ingin berbagi pengalaman, saya terbuka” katanya.
Dirinya pun menyampaikan, selain ditunjang faktor teknologi. Bagaimana seorang petani harus memiliki mental yang kuat kemudian konsisten dalam bekerja.
Lantaran, jika sudah praktik di sawah, akan berbeda dengan apa yang diketahui secara teori. (*)
Tags : pertanian, benih ungguk, teknologi, sambas, petani muda ,