Linkungan   2023/02/27 21:27 WIB

Raja Spanyol Abad Ke-16 Bawa Spesies Ikan Mas, 'yang Akhirnya Bisa Mengancam Spesies Asli'

Raja Spanyol Abad Ke-16 Bawa Spesies Ikan Mas, 'yang Akhirnya Bisa Mengancam Spesies Asli'

Raja Spanyol abad ke-16 membawa beberapa spesies ikan Mas. Namun, apakah dia bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang terjadi saat ini?

Satu ikan mas mati. Raja merasa sedih. Selama berbulan-bulan, dia menunggu dengan sabar.

Namun, yang berhasil sampai ke Madrid hanyalah satu ikan mati dan tiga lusin yang hidup, tapi kecil, yaitu ikan tombak (pike) - dari 200 ikan lebih yang dikirim kepadanya.

Philip II tidak meminta banyak. Saat itu tahun 1565 dan raja Spanyol yang kemudian meluncurkan Armada Spanyol memiliki hobi lain. 

Dia bermimpi punya kolam yang penuh dengan ikan menawan. Philip II menginginkan ikan seperti yang ada di taman air yang dia lihat dalam perjalanannya ke Eropa Tengah. 

Itu sebabnya dia merekrut dua "ahli perikanan" untuk membantu. Keduanya berasal dari Belanda dan mereka terdaftar sebagai utusan kepercayaan raja.

Mereka tahu semua tentang ikan dan angsa.

Di musim dingin yang parah pada 1564-1565, raja mengirim mereka untuk sebuah misi.

Mereka akan pergi secara terpisah ke Prancis untuk mengumpulkan ikan mas (carp) dan ikan tombak (pike), lalu mengangkutnya ke Madrid.

Namun, semuanya tidak berjalan dengan baik. Setelah tiba di kota Bayonne, Prancis, salah satu dari mereka tertangkap sedang membuat sketsa pintu masuk ke pelabuhan kota.

Dia dituduh sebagai mata-mata, dipenjara, dan diancam hukuman mati. Surat-surat raja yang ditulis dalam kepanikan mungkin telah menyelamatkan nyawanya.

Dia kembali ke Madrid pada Maret. Sejauh yang diketahui, dia pulang tanpa membawa ikan.

Utusan lainnya bernasib lebih baik. Namun, dia terhadang oleh badai salju dan untuk sementara harus meninggalkan 28 ikan tombak dan delapan ikan mas di kolam biara di kota Burgos, Spanyol.

Dia melanjutkan perjalanan, membeli lebih banyak ikan atas perintah raja, dan akhirnya tiba dengan penuh kemenangan di Madrid pada Februari 1565.

Dengan satu ikan mas yang mati dan 39 ikan tombak kecil.

Philip II bukanlah orang pertama yang mencari spesies dari jauh untuk taman Eden pribadinya. Dan dia jelas bukanlah yang terakhir.

Orang-orang mungkin berpendapat bahwa sejarah menghias taman dan kebun sebenarnya adalah sejarah pemindahan satu tumbuhan atau hewan, atau keseluruhan estetika, dari satu tempat ke tempat lain.

Penataan ulang alam ini telah membentuk gagasan kita tentang seperti apa taman yang "seharusnya" terlihat.

Namun, beberapa orang telah menyebabkan malapetaka dengan membiarkan invasi spesies yang menyebar seperti api dan merusak ekosistem asli.

Ikan mas dan ikan tombak saat ini dianggap sebagai spesies invasif di Spanyol dan menjadi penyebab kerusakan ekosistem yang signifikan di negara tersebut.

Spesies invasif adalah spesies pendatang yang ada di suatu wilayah berkat campur tangan manusia.

Namun, apakah Raja Philip II pada akhirnya bertanggung jawab untuk masalah ini?

Dan dapatkah para ilmuwan menggunakan pengantar bersejarah ini untuk membantu mengantisipasi dampak lingkungan dari spesies lain yang baru diperkenalkan di seluruh dunia saat ini?

"Sungguh menakjubkan jumlah waktu dan upaya, serta minat yang diberikan raja untuk hal-hal ini," kata Miguel Clavero dari La Estación Biológica de Doñana, sebuah lembaga ilmiah di Spanyol.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 2022, dia merinci petualangan pakar perikanan utusan Philip II dan menjelaskan bagaimana, raja akhirnya berhasil membawa lusinan ikan dan udang karang ke kebunnya dari luar negeri dengan bantuan mereka.

Ini termasuk ikan tombak dari wilayah utara, Esox Lucius, yang berasal dari Amerika Utara dan Eurasia; ikan mas Cyprinus carpio, yang bisa ditemukan di sebagian besar Eropa; serta ikan Tinca tinca, yang dapat ditemukan di seluruh Eurasia.

Ada juga udang karang Italia Austropotamobius italicus, yang asal-usulnya saat ini masih diperdebatkan.

Dokumen-dokumen dan surat-surat di arsip kerajaan Spanyol mengungkap bagaimana raja memperoleh tingkat pengetahuan yang luar biasa mengenai akuakultur.

Dia memiliki buku-buku tentang itu di perpustakaannya dan ketika 39 ikan tombaknya tiba, Philip II mengetahui, misalnya, bahwa ikan-ikan yang diangkut dalam wadah yang sama (untuk makanan ikan tombak) terlalu besar untuk ikan tombak kecil itumakan.

Obsesi raja juga tidak berhenti pada ikan. Menurut makalah Clavero, Philip II juga mengambil berbagai tanaman untuk kebunnya dan beberapa ayam yang tidak biasa/unik.

Dia sering bertanya kepada para pembantunya tentang berapa banyak telur yang dihasilkan unggas-unggas itu.

Memindahkan ikan merupakan tantangan tersendiri. Clavero tidak yakin jenis wadah apa yang digunakan, tetapi dia mencurigai semacam tangki kayu di atas kereta kuda.

Musim dingin dipilih untuk ekspedisi, katanya, karena para pakar tahu bahwa lebih kecil kemungkinannya untuk ikan kepanasan dan kehabisan oksigen, dibandingkan di musim panas.

"Saya merasa sangat, sangat takjub bahwa dia mengetahui sedetail itu," kata Ambra Edwards, seorang penulis dan sejarawan taman yang berbasis di Inggris.

Namun demikian, praktik para penguasa yang menunjukkan kekayaan dan kekuasaan mereka melalui taman yang mengesankan, bahkan di tahun 1500-an, bukanlah hal baru.

Ribuan tahun yang lalu, orang Sumeria menimbun perkebunan mereka dengan tumbuhan-tumbuhan dan hewan-hewan yang dikumpulkan dari daerah yang sudah ditaklukan, kata Edwards.

Dan antara tahun 141 dan 87 SM, seorang kaisar China dilaporkan telah memenuhi taman Shanglin, tempat berburu besar di luar ibu kota kekaisaran Chang'an (sekarang dikenal sebagai Xi'an) dengan tumbuhan dan hewan dari seluruh Kekaisaran, dan lebih jauh lagi.

Meskipun telah menjadi legenda, taman Shanglin kemungkinan besar benar-benar ada, kata Edwards.

Namun, berapa banyak informasi ilmiah yang dapat kita peroleh dari cerita dan dokumen lama yang berdebu itu?

Yang terpenting, baru pada saat akuisisi botani dan zoologi Philip II, deskripsi yang andal dan ilustrasi terperinci tentang tanaman-tanaman dan hewan-hewan muncul di Eropa, kata John David, kepala taksonomi hortikultura di Royal Horticultural Society di Inggris.

Dia menyebutkan Hortus Eystettensis tahun 1613 sebagai contoh. Itu adalah sebuah koleksi yang berisi potret bunga dari banyak tanaman berbeda.

"Ini adalah buku ilustrasi yang indah, disusun berdasarkan empat musim," kata David. 

Namun lukisan juga bisa bermanfaat, seperti karya seniman Flemish Clara Peeters.

Salah satu lukisannya, "Still life with fish", juga dari awal tahun 1600-an, menggambarkan ikan mas, ikan tombak, dan udang karang di antara makhluk air lainnya.

Karena 400 tahun yang lalu orang-orang tertentu mendokumentasikan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan di tengah-tengah mereka dengan sangat hati-hati, para peneliti saat ini dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuat analisis ekologis, persis seperti yang telah dicoba oleh Clavero.

Catatan sejarah juga menangkap kesalahan masa lalu. Membawa ikan nile perch, yang pada tahun 1950-an dibawa ke Danau Victoria, hamparan air raksasa yang melintasi sebagian Kenya, Uganda, dan Tanzania.

Gagasan untuk membawa ikan nile perch dilakukan demi meningkatkan industri perikanan lokal, tetapi dari sudut pandang keanekaragaman hayati, proyek tersebut menjadi bencana karena ikan tersebut membuat ratusan spesies ikan asli hampir punah.

Seperti upaya Philip II, apakah dia seorang visioner atau perusak?

Antusiasmenya membawa ikan ke Spanyol dan memperkenalkan spesies non-asli yang kemudian menjajah negara itu, mungkin merugikan flora dan fauna asli.

Namun, tidak jelas apakah populasi ikan mas yang dibawa oleh Philip II bertahan dan berlipat ganda.

Paling tidak, bagaimanapun, ia berkontribusi pada tren membawa ikan mas ke negara itu, yang dapat memengaruhi distribusi spesies secara lebih luas.

Tidak jelas mengapa, tetapi ikan tombak yang dia bawa pada akhirnya tampak menyusut, kata Clavero, seperti halnya ikan tombak yang diangkut ke Spanyol pada abad ke-18 oleh Philip V, penerus Philip II.

Ikan tombak invasif yang ada di Spanyol hari ini dibawa pada 1949.

Lalu ada udang karang. Saat ini, status ekologi udang karang "Italia" atau cakar putih masih menjadi kontroversi.

Meskipun ditemukan di seluruh Eropa, tidak jelas apakah spesies tersebut berasal dari Spanyol.

Menetapkan hal ini sangatlah penting, karena udang karang ini sebelumnya mengalami penurunan, tetapi populasinya sudah mulai pulih.

Clavero berpendapat spesies tersebut kemungkinan besar pertama kali diperkenalkan oleh Philip II pada tahun 1580-an dan udang karang putih kemudian tersebar luas di Spanyol sebagai hasilnya.

"Udang karang adalah ketertarikan asli dari raja," kata Clavero. "Pada titik tertentu, orang-orang mulai makan udang karang dan menyebarkannya ke mana-mana. Kami mengetahui beberapa peristiwa permulaannya selama abad ke-18, 19, dan ke-20."

Peneliti lain mengatakan ada bukti genetik yang menunjukkan bahwa spesies udang karang ini sebenarnya telah ada di Spanyol selama ribuan tahun.

Salah satu argumennya adalah bahwa surat-surat abad ke-16 bukanlah sumber yang dapat diandalkan atau cukup lengkap untuk menetapkan sejarah alam sebenarnya dari spesies tersebut.

Namun, Clavero mengatakan bahwa sumber tertulis bisa cacat atau tidak lengkap, begitu juga dengan analisis genetik.

Rafael Miranda dari University of Navarra di Spanyol, berpendapat dokumen sejarah dapat memberikan informasi yang berguna bagi ahli ekologi.

Namun, dia mengatakan apakah udang karang putih dianggap asli atau tidak, tetap menjadi pertanyaan terbuka. "Kita harus meneliti lebih lanjut," katanya.

Bahkan jika spesies itu ada di Spanyol sebelum Philip II berupaya mengimpornya dari jauh, tidak diragukan lagi sang raja pasti tertarik untuk itu.

Dan ada laporan bahwa bangsawan Spanyol melanjutkan ketertarikan mereka terhadap udang karang, berpesta menyantap sampel-sampel dari perairan Douro hanya beberapa dekade kemudian, pada pertengahan abad ke-17.

Semua informasi sejarah ini dapat berguna di abad-abad mendatang. Para peneliti yang menyisir dokumen arsip atau genome piscine sering mengungkap informasi penting tentang bagaimana spesies menyebar ke seluruh negara dan bahkan seluruh wilayah.

Itu seharusnya membantu para ilmuwan saat ini untuk meramalkan bagaimana organisme yang baru dibawa ke suatu wilayah dapat memantapkan dirinya di masa depan.

"Kami dapat menggunakan informasi yang Anda peroleh dari masa lalu untuk mengembangkan model," kata David. "Sama seperti yang Anda lakukan untuk hal-hal seperti pandemi."

Namun, yang lebih mendasar, memahami bagaimana pencinta kebun dan taman telah memindahkan spesies-spesies dengan begitu bersemangat selama berabad-abad, memperluas pandangan kita tentang betapa mereka pasti telah membentuk gagasan tentang apa yang seharusnya ada di mana.

Edwards menunjuk ke pohon aras di depan Kastil Highclere di Inggris – rumah megah yang dikenal banyak orang sebagai Downton Abbey, ikon dari Inggris.

Pohon aras pada awalnya bukanlah tanaman asli Inggris. "Pohon ini berasal dari Lebanon pada pertengahan 1600-an," katanya.

Philip II mungkin dianggap hanya salah satu dari banyak orang yang mencari, dan memperkenalkan, spesies dari jauh, tetapi dia melakukannya dengan penuh semangat.

Arsip-arsip menunjukkan bahwa usahanya untuk memperoleh ikan dan udang karang berlangsung setidaknya 25 tahun. Seperti yang dikatakan Clavero, sensasi hewan air ini mungkin menarik bagi sebagian besar bangsawan demi "kebutuhan untuk menjadi unik". (*)

Tags : Raja Spanyol Abad Ke-16, Bawa Spesies Ikan Mas, Ikan Mas Bisa Mengancam Spesies Asli,