AGAMA - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menegaskan bahwa ibadah kurban bukanlah amalan yang cukup dilakukan sekali seumur hidup.
Dalam ceramahnya di Masjid KH Sudja pada Senin (18/05), ia menyebut kurban sebagai ibadah tahunan yang seyogianya terus dihidupkan setiap Iduladha sepanjang hayat bagi umat Islam yang mampu.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memahami bahwa kurban cukup dilakukan sekali lalu digilir kepada anggota keluarga lain pada tahun berikutnya.
Pemahaman seperti itu, kata dia, menyebabkan di sejumlah daerah justru hampir tidak ada penyembelihan hewan kurban.
“Karena yang merasa sudah kurban walaupun mampu dia tidak kurban lagi. Yang belum mampu ya tidak kurban juga. Sehingga di sana jarang ada yang kurban karena pemahamannya hanya sekali seumur hidup,” ujarnya.
Budi menjelaskan, tidak ada dalil Al-Qur’an maupun hadis yang membatasi ibadah kurban hanya sekali sepanjang hidup.
Ia mengutip Surah Al-Kautsar ayat 2: “Fa shalli li rabbika wanhar” “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Menurutnya, ayat tersebut tidak memberikan batasan waktu tertentu. Karena itu, perintah kurban dipahami berlaku terus menerus setiap tahun selama seseorang mampu melaksanakannya.
Ia juga mengutip Surah Al-Hajj ayat 36: “Wal budna ja‘alnaha lakum min sya‘airillah” “Dan telah Kami jadikan hewan-hewan kurban itu sebagai bagian dari syiar Allah.”
Kata “syiar”, lanjutnya, menunjukkan bahwa kurban merupakan tanda besar dalam agama yang harus terus dihidupkan dari tahun ke tahun, sebagaimana syiar salat Idulfitri dan Iduladha.
Selain dalil Al-Qur’an, Budi menyinggung praktik Rasulullah Saw yang menurutnya senantiasa berkurban setiap tahun hingga wafat.
Ia mengutip hadis tentang Nabi yang menyembelih dua ekor kambing kibas; satu untuk dirinya dan keluarganya, serta satu lagi untuk umat Islam yang belum mampu berkurban.
“Tidak ada satu riwayat pun yang menjelaskan Nabi itu kurban hanya sekali. Maka menunjukkan bahwa kurban itu berlaku setiap tahun,” katanya.
Dalam penjelasannya, Budi juga menepis anggapan bahwa hewan kurban harus berupa kambing semata.
Memang, kata dia, Nabi lebih sering menyembelih kambing atau domba. Namun Rasulullah juga membolehkan sapi dan unta sebagai hewan kurban.
Ia mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas tentang para sahabat yang berpatungan membeli seekor sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang ketika bepergian bersama Rasulullah Saw.
“Berarti ini hewan memang termasuk hewan kurban. Jadi tak usah dipermasalahkan lagi apakah harus kambing,” ujarnya.
Menurut Budi, pemilihan kambing pada masa Nabi juga berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Arab saat itu.
Kambing merupakan ternak yang paling banyak dimiliki dan paling mudah dijangkau harganya. Karena itu, menurut dia, tidak tepat jika umat Islam sekarang memutlakkan kambing sebagai satu-satunya hewan kurban.
Ia bahkan menyoroti aspek kemanfaatan sosial dari kurban sapi yang dinilai lebih besar karena mampu menghasilkan daging lebih banyak untuk masyarakat.
“Yang utama itu jenengan kurban, bukan malah enggak kurban,” ucapnya disambut tawa jamaah.
Dalam ceramah tersebut, Budi juga mengingatkan hadis ancaman bagi orang yang mampu tetapi enggan berkurban. Ia mengutip riwayat Ahmad dan Ibnu Majah:
“Barang siapa yang mampu berkurban tetapi tidak melakukannya, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”
Menurutnya, hadis itu merupakan bentuk peringatan keras agar umat Islam tidak meremehkan ibadah kurban ketika memiliki kemampuan finansial.
Ia kemudian menjelaskan pandangan para ulama fikih.
Mazhab Hanafi memandang kurban sebagai wajib bagi yang mampu setiap tahun, sedangkan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menilainya sebagai sunah muakkadah atau sunah yang sangat ditekankan.
“Tidak ada satu pun mazhab yang mengatakan kurban cukup sekali,” tegasnya.
Selain aspek hukum, Budi menekankan dimensi sosial dan spiritual kurban.
Ia menyebut kurban sebagai latihan pengorbanan tahunan sekaligus sarana membersihkan harta dan menguatkan kepedulian sosial.
Ia mengungkapkan masih banyak daerah, termasuk di kawasan pegunungan Yogyakarta, yang sangat jarang menikmati daging kurban.
Bahkan ada wilayah yang hanya memiliki satu ekor kambing untuk dibagikan kepada seluruh warga.
“Ini menunjukkan betapa kepedulian sosial dengan kurban itu luar biasa,” katanya.
Karena itu, ia mengapresiasi masjid-masjid yang menyalurkan hewan kurban ke daerah minim kurban agar distribusinya lebih merata.
Budi juga menyinggung kebijakan Muhammadiyah pada masa pandemi COVID-19 yang sempat mengarahkan dana kurban untuk membantu masyarakat terdampak ekonomi.
Menurutnya, keputusan tersebut lahir dari pertimbangan kondisi darurat dan kemaslahatan umat.
Di akhir ceramah, ia mendorong jamaah agar mulai menabung dan membangun niat berkurban sejak dini.
Menurutnya, kemampuan berkurban bukan semata soal besar kecilnya penghasilan, melainkan kesungguhan menyisihkan rezeki.
“Ada anak SD yang mampu kurban karena menyisihkan uang jajannya. Ada pemulung yang mampu kurban karena menyisihkan hasil mulungnya,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar gaya hidup konsumtif tidak mengalahkan semangat ibadah kurban.
“Setiap minggu update status healing, makan di luar terus, tapi pas Iduladha enggak kurban. Berarti memang enggak niat,” katanya.
Menutup pengajiannya, Budi mengajak umat Islam menjadikan kurban sebagai investasi akhirat tahunan sekaligus bentuk cinta kepada Allah dan kepedulian kepada sesama.
“Semoga kita bisa berkurban dan Allah mudahkan segala tujuan niat kita serta mengampuni dosa-dosa kita,” tutupnya. (*)
Tags : umat islam, anjuran berkurban, islam, kurban, Umat,