Artikel   2026/04/24 16:18 WIB

Parfum Gratis dari Bos Hamed di Kota Nabi yang Sudah Termasyhur

Parfum Gratis dari Bos Hamed di Kota Nabi yang Sudah Termasyhur

MUNGKIN benar, parfum bermerek Gissaty berwarna ungu (Bos Hamed) di Kota Nabi (Madinah) sudah termasyhur.

"Welcome to Madinah!" "Apa kabar induuniisiy?" "Mabrur, Hajj!" Itulah jenis-jenis kalimat sapaan yang sering didengar sejak hari pertama menginjakkan kaki di Kota Madinah.

Kota yang kerap dijuluki sebagai Kota Nabi tersebut memang sudah termasyhur akan keramahtamahannya.

Ucapan tersebut pun tidak hanya berasal dari satu kalangan saja, melainkan banyak orang dari berbagai profesi seperti resepsionis hotel, penjaga warung, sopir taksi, hingga petugas cleaning service di masjid.

Tiap kali terdapat orang Indonesia melintas, orang-orang tersebut selalu menunjukkan gestur yang ramah seperti senyum lebar, anggukan kepala, hingga ucapan salam. 

Cerita yang cukup berkesan sebagai bukti kebaikan hati orang Madinah. Peristiwa tersebut terjadi pada hari kedua saya berada di kota yang dulu disebut sebagai Yatsrib tersebut.

Saat itu, teman sekamar yang menginap di Kantor Urusan Haji (KUH) Madinah ingin menunaikan sholat Subuh di Masjid Nabawi, masjid yang menjadi lokasi makam Nabi Muhammad SAW. 

Sejak sebelum Subuh, para jemaah sudah bersiap-siap berjalan kaki ke masjid tersebut.

Jaraknya tidaklah jauh berjalan kaki untuk shalat Subuh berjamaah di Nabawi.

Usai shalat Subuh berjamaah, seorang teman kemudian mengajak ke sebuah toko suvenir yang terletak di dekat situ, tepatnya di dekat Gate 338 Masjid Nabawi, yang dikenal dengan Toko Bos Hamed.

Begitu masuk ke toko tersebut, disadari jika mayoritas barang yang dijual adalah parfum.

Rupanya teman jemaah adalah penggemar parfum.

Karena bukan orang yang suka memakai parfum, tetapi jika ingin melihat-lihat saja isi dari toko tersebut yang ternyata menjual berbagai aksesoris haji dan umrah seperti mushaf Alquran, sajadah, tasbih, dan pernak-pernik lain. 

Salah satu pelayan toko kemudian mengambil sebuah parfum bermerek Gissaty berwarna ungu dan memberikannya.

"Gratis buat kamu, cukup follow saja akun Instagram @bos_hamed," kata dia.

Sementara teman jemaah yang baru saja membeli parfum tersebut tersenyum kecut.

Ia merasa dirinya yang membeli, namun justru saya yang memperoleh bonus parfum gratisnya.

Ceritanya tak cukup sampai situ. Sejumlah teman (beberapa di antaranya orang-orang yang sama) kembali mengajak mampir ke toko Bos Hamed di sela-sela aktivitas peliputan sebagai Media Center Haji (MCH).

Merasa tidak enak karena sama sekali tak membeli barang dan baru saja memperoleh barang gratisan. 

Namun, justru saat itu oleh beberapa karyawan yang sedang istirahat malah diajak makan nasi mandi (hidangan tradisional yang berasal dari selatan Jazirah Arab-Red) secara bersama-sama dalam satu nampan besar.

"Ayo, makan sini teman, tidak usah malu-malu," ucap salah satu pelayan toko.

Saya menerima ajakan tersebut dan mengambil sesuap nasi dan secuil ayam menggunakan tangan seperti yang mereka lakukan.

Bos Hamed, datang dari luar dan memanggil kembali meminta meminta salah seorang karyawannya untuk memberi parfum gratis kepada saya.

"Ambil yang di atas itu, berikan ke kawan kita yang satu ini," ujar Bos Hamed yang lancar berbahasa Indonesia.

Kali ini mereknya Ameer Al Oud berwarna kuning. Saya tak kuasa menolak buah tangan dari Bos Hamed yang ternyata masih berusia muda dan berwajah tampan.

Alhamdulillah wa syukurillah. Di tengah padatnya aktivitas meliput jamaah haji ternyata banyak kebaikan datang kepada kami, salah satunya dari Bos Hamed.

Kemurahan hati sang dermawan menjadi salah satu bukti sifat ramah yang dimiliki orang Madinah. (*)

Tags : haji 2026, madinah, madinah arab saudi, bos hamed, parfum, parfum jamaah, jamaah haji madinah, masjid nabawi ,